Strategi Funneling Dalam Digital Marketing Yang Efektif Naikkan Omzet
Artikel · Akses Pasar
Lama Baca : 8 Menit
Strategi adalah keliru satu perihal yang terlampau mutlak untuk kita rencanakan dalam mobilisasi sebuah usaha. Hal ini layaknya pepatah yang kerap kita dengar, yaitu “jika kita gagal membuat rencana, maka serupa saja kita berencana untuk gagal”. Ya kawan akrab UKM, sepenting itu sesungguhnya siasat untuk usaha kita. Lantas, siasat apa saja yang mesti disiapkan? Tentu banyak sekali jawabannya, tapi keliru satunya adalah siasat pemasaran, dikarenakan seorang pembeli yang pada akhirnya belanja product kita tentu telah lewat bermacam tahapan. Hal ini biasa kita sebut bersama dengan funneling.
Yang menarik dari funneling waktu ini adalah berubahnya proses pembelian sejalan bersama dengan berkembangnya digital. Di era digital layaknya waktu ini, digital marketing (pemasaran online) telah menjadi kebutuhan bagi pelaku usaha untuk membantu menaikkan omzetnya. Sayangnya, pemanfaatan industri digital di Indonesia waktu ini tetap paling rendah dibanding 19 negara lain yang disorot. Meskipun demikian, kondisi ini merupakan kesempatan besar yang mesti dioptimalkan. Nah kawan akrab UKM, bagaimana siasat funneling dalam digital marketing yang efisien sehingga omzet kita berlipat ganda?
Dengan timbulnya digital, maka funneling ini pun pada akhirnya terhitung tambah mutlak dijalankan bersama dengan perkembangan teknologi yang ada. Sebelum kita masuk mengkaji mengenai tahapan funneling di era digital, mari kita bahas lebih-lebih dahulu apa itu digital marketing.
Pengertian dan Pentingnya Digital Marketing
Pengertian simple dari digital marketing adalah aktivitas pemasaran yang gunakan internet. Banyaknya jalinan yang kita laksanakan di dunia internet, membuat kita dan pelanggan kita tentunya, tidak bisa jauh-jauh dari internet. Semua kalangan dan hampir semua profesi memerlukan internet untuk bisa membantu aktivitas sehari-hari, menjadi dari pekerjaan hingga belanja kepentingan sehari-hari. Peluang inilah yang bisa kawan akrab UKM optimalkan. Sahabat UKM bisa mengenalkan dan memasarkan produknya melalui internet. Selain itu, tersedia bermacam keunggulan yang akan kawan akrab UKM bisa kalau mengoptimalkan digital marketing, di antaranya sebagai berikut.
Akses luas dan tanpa batas geografis
Sahabat UKM dulu bermimpi kalau product yang kita menjual bisa diketahui oleh negara tetangga, layaknya Singapura, Thailand, lebih-lebih Amerika Serikat sekalipun yang jaraknya lumayan jauh? Jika iya, maka internet adalah hanya satu tempat yang bisa melakukannya. Sahabat UKM bisa beriklan di tempat online sehingga siapapun yang mempunyai akses internet, sejauh apapun geografisnya, bisa membaca dan tahu product yang kita iklankan.
Contoh UKM yang telah menjajakan produknya ke mancanegara. Sumber foto : instagram Alif Kurma n Friends
Memudahkan menjangkau pelanggan spesifik
Dalam digital marketing, kita dimungkinkan untuk menjangkau calon pelanggan yang lebih spesifik, yaitu pelanggan potensial yang mempunyai minat bersama dengan product yang kita tawarkan. Hal ini mutlak dikarenakan bisa menaikkan kesempatan terjadinya pembelian. Jika dibandingkan bersama dengan pemasaran offline, layaknya menyebar brosur, membuat spanduk, atau berkunjung ke rumah secara random, perihal ini tentu mempunyai kesempatan yang lebih kecil perihal terjadinya pembelian.
Mampu mengontrol efektivitas siasat pemasaran yang dilakukan
Melalui digital marketing, teman-teman bisa menarget sekaligus mengontrol berapa kuantitas pengunjung atau pelanggan yang berkunjung ke toko online atau situs kita. Data berikut akan terdokumentasi bersama dengan baik dan bisa kita jadikan alat kontrol untuk evaluasi siasat pemasaran yang telah kita lakukan. Berbeda bersama dengan toko offline, dimana kita tidak mempunyai knowledge yang terdokumentasi bersama dengan baik perihal kuantitas pelanggan yang datang, kapan saja jam ramai dan sepinya, apakah tersedia event spesifik yang membuat toko kita ramai, dan lain sebagainya. Oleh dikarenakan itu, mengontrol seberapa besar efektivitas pemasaran offline yang telah dijalankan menjadi sukar dilakukan.
Biaya yang lebih murah
Banyak pelaku usaha yang gunakan digital marketing sebagai siasat untuk meraih biaya yang lebih murah, atau biasa kita sebut bersama dengan biaya cutting. Bahkan, kawan akrab UKM bisa mengoptimalkan digital marketing secara gratis. Sebut saja pemanfaatan tempat sosial layaknya Facebook dan Instagram. Sahabat UKM cuma mesti mempunyai kuota internet. Selebihnya, kawan akrab UKM bisa mem-posting foto dan Info product yang di tawarkan secara gratis dan mudah.
Jikapun berbayar, secara lazim biaya yang digunakan untuk beriklan via digital lebih murah dibandingkan pemasaran konvensional. Sebut saja televisi, radio, atau tempat cetak yang dulu biasa digunakan untuk tempat promosi. Puluhan juta lebih-lebih barangkali ratusan juta dibutuhkan untuk bisa tayang di tempat tersebut. Hal ini tentu menjadi halangan tersendiri bagi para pebisnis yang skala usahanya tetap tergolong kecil. Untuk itu, kita bisa gunakan iklan di digital marketing. Dengan biaya Rp 50.000 sehari, kita bisa laksanakan promosi melalui Facebook Ads, Google Ads, dan Instagram Ads. Biayanya lebih terjangkau bukan? (sumber foto : fiverr.com).
Bagaimana kawan akrab UKM, banyak sekali bukan keuntungan yang bisa kita dapatkan melalui digital marketing? Tapi tentu perihal ini tidak berkunjung begitu saja. Kita selamanya mesti laksanakan rencana siasat lebih-lebih dahulu sehingga program digital marketing bisa berlangsung efisien dan efisien. Apakah setelah kawan akrab UKM mempunyai tempat digital marketing, layaknya situs misalnya, lantas pelanggan yang datang ke situs tentu belanja product yang ditawarkan? Jawabannya belum tentu, bisa iya bisa terhitung tidak.
Seperti yang telah diulas pada mulanya mengenai funneling, dimana tersedia lebih dari satu tahapan yang akan dilalui oleh seorang calon pelanggan kala datang ke toko online hingga akhirnya Ia menjadi pelanggan kita. Yuk kita liat tahapan apa saja yang akan dilalui pembeli dalam digital marketing.
Tahapan Strategi Funneling dalam Digital Marketing
AIDA adalah kata yang mesti kawan akrab UKM ingat kalau berkata perihal basic tahapan funneling. Ini bukan nama orang ya, melainkan sebuah singkatan dari Awareness, Interest, Desire, dan Action. Model ini menyebutkan proses bagaimana seorang pembeli menyita keputusan dalam belanja sebuah produk.
Dari yang awalnya mereka tahu keberadaan sebuah product (aware), selanjutnya menjadi tertarik bersama dengan product berikut (interest), mempunyai permohonan atau keinginan untuk belanja product berikut (desire), hingga akhirnya pembeli berikut terlampau belanja product yang di inginkan (action). Ya, inilah basic tahapan funneling yang biasa digunakan dalam pemasaran. Yuk, kita bahas masing-masing tahapan secara rinci.
Tahap Pertama (Awareness)
Layaknya sebuah pasar, tentu di dalamnya tersedia banyak sekali toko dan penjual. Kecenderungan kita adalah berkunjung ke toko atau penjaja yang telah kita ketahui, kenal, atau familiar sebelumnya. Betul begitu kan? Begitu terhitung bersama dengan digital marketing. Di dunia internet, tentu banyak sekali toko online, baik bersifat website, social tempat layaknya Instagram dan Facebook, maupun toko di platform e-commerce/marketplace layaknya Tokopedia, Lazada, Bukalapak, Shopee, dan lain sebagainya. Sahabat UKM mesti laksanakan edukasi lebih-lebih dahulu kepada calon pelanggan potensial bahwa kita mempunyai toko online tersebut. Edukasi ini bisa melalui iklan atau campaign kalau mempunyai modal. Bisa terhitung kawan akrab UKM laksanakan ini secara gratis bersama dengan broadcast ke jejaring via Whatsapp, update Info melalui account sosial tempat kawan akrab UKM, atau penyebaran info melalui email.
Ketika calon pelanggan berikut datang ke toko online kita, maka standing calon pelanggan berikut telah beralih dari audience (pemirsa) menjadi visitor (pengunjung). Jadi, kata kunci utama dalam tahap pertama ini adalah edukasi sehingga calon pelanggan tahu toko online yang kawan akrab UKM miliki. Karena ingat, calon pelanggan akan datang ke toko atau penjaja yang telah kita diketahui atau familiar sebelumnya.
Tahap Kedua (Interest)
Apakah kawan akrab UKM dulu datang ke sebuah toko selanjutnya memastikan untuk tidak belanja apapun dan akhirnya nampak kembali dari toko tersebut? Apa kebanyakan yang membuat kawan akrab UKM menyita keputusan layaknya itu? Ya, bisa menjadi dikarenakan produknya tidak menarik, tidak tidak sama bersama dengan product punya pesaing, atau bisa terhitung dikarenakan kondisi tokonya yang tidak nyaman, proses pembayaran yang berbelit-belit, dan lain sebagainya.
Begitu terhitung yang bisa berlangsung di toko online. Setelah kawan akrab UKM bisa mengubah audience menjadi visitor bersama dengan datang ke toko online kita yang dimiliki, belum tentu visitor ini laksanakan pembelian. Sahabat UKM mesti bisa meyakinkan visitor berikut sehingga tertarik bersama dengan produk-produk yang kita tawarkan. Kita mesti bisa menyebutkan bersama dengan baik apa keunggulan product kita yang menonjol dibanding product sejenis yang dimiliki pesaing. Berikan konten-konten yang dirasa relevan dan dibutuhkan oleh visitor. Yang tidak kalah penting, sajikan konten-konten berikut bersama dengan visualisasi yang menarik, layaknya gambar, video tutorial atau infografik.
Selain itu, kenyamanan toko online terhitung terlampau penting. Hal ini bisa kawan akrab UKM laksanakan bersama dengan membuat penampilan situs yang simple dan user friendly atau enteng digunakan. Jriteria user friendly dalam toko online mencakup nama domain yang enteng diingat, penampilan berkelanjutan dan bisa dipindai, desain responsive dan kompatibel, waktu loading yang relatif cepat atau fast loading speed, dan bahasa konten yang sederhana.
Tahap Ketiga (Desire)
Setelah visitor membuktikan ketertarikan bersama dengan product yang kita tampilkan, maka kini saatnya kita laksanakan follow up (menindaklanjuti). Ya, ini mutlak dijalankan dikarenakan visitor yang tertarik belum tentu langsung laksanakan pembelian. Follow up layaknya apa yang kawan akrab UKM bisa lakukan?
Sahabat UKM bisa laksanakan follow up bersama dengan menawarkan promo-promo menarik, layaknya potongan harga, free biaya kirim, atau memberi tambahan gift tertentu. Selain itu, kawan akrab UKM terhitung bisa memberi tambahan Info perihal testimoni yang diberikan oleh pelanggan yang sepanjang ini telah gunakan product kawan akrab UKM. Testimoni ini terlampau mutlak untuk menaikkan trust (kepercayaan) dan keyakinan visitor kita. Yang pada mulanya telah menjadi tertarik, visitor bisa lebih yakin hingga akhirnya membantu menyita keputusan pembelian.
Tahap Keempat (Action)
Ketika visitor berikut telah belanja product kita, maka statusnya telah beralih dari yang awalnya calon pelanggan menjadi pelanggan. Layaknya sebuah pertemanan yang awalnya tidak kenal menjadi kenal, tentu kawan akrab UKM mesti membina jalinan pertemanan berikut bukan? Begitu pula bersama dengan pelanggan kita.
Dalam tahap yang paling akhir ini, kawan akrab UKM mesti merawat jalinan baik bersama dengan para pelanggan. Tumbuhkan rasa mempunyai dalam diri pelanggan pada product kita. Sahabat UKM bisa membuat program kesetiaan pelanggan, sehingga bisa menaikkan kuantitas pembelian produk, ataupun menciptakan referral program, sehingga pelanggan berikut akan mempromosikan product kita dan mengajak jejaringnya untuk turut gunakan product yang kita tawarkan. Program-program layaknya ini bisa menaikkan keterikatan dan rasa mempunyai pelanggan. Secara tidak langsung, pelanggan-pelanggan berikut terhitung menjadi marketer dari usaha kita.
Namun yang mesti diingat, pelanggan akan bersedia menawarkan product kita ke jejaringnya cuma kalau Ia yakin bahwa kualitas product kita sesungguhnya tidak mesti diragukan lagi. Oleh dikarenakan itu, mutlak sekali bagi kawan akrab UKM untuk selamanya laksanakan evaluasi product dan memberi tambahan pelayanan prima. Sahabat UKM terhitung bisa mengajak para pelanggan untuk berkontribusi aktif memberi tambahan masukan membangun. Lagi-lagi, perihal ini akan bisa menaikkan keterikatan dan rasa mempunyai pelanggan. Menarik bukan.
Evaluasi Strategi Funneling
Sahabat UKM, tiap tiap siasat pemasaran yang dilakukan, tentu mempunyai target atau objektif, sehingga pada akhirnya target ini bisa kita evaluasi apakah tercapai atau tidak, apakah siasat pemasaran yang kita laksanakan cocok bersama dengan target yang inginkan dituju. Begitu pula bersama dengan digital marketing, lebih-lebih pada siasat funneling. Sahabat UKM mesti bisa laksanakan evaluasi apakah program campaign atau iklan yang dijalankan melalui online telah bisa mencapai target yang ditetapkan sebelumnya.
Evaluasi yang dijalankan bisa bersifat mengukur perkembangan audience, engagement rate, dan lead generation funnel. Agar lebih mudah, mari kita bahas satu-persatu.
Mengukur Pertumbuhan Audience
Kita mesti mengukur perkembangan atau kenaikan audience (pemirsa) pada toko online kita. Dalam perihal ini, yang mesti kawan akrab UKM perhatikan adalah platform apa yang digunakan, dikarenakan cara mengukur perkembangan audience tidak sama untuk tiap tiap platform nya.
Untuk mengukur perkembangan pada website, kita bisa gunakan Google Analytics. Sedangkan pada e-commerce/marketplace, kebanyakan masing-masing platform menyediakan alat bantu analisis tersendiri.
Bagi kawan akrab UKM yang kerap menjajakan product melalui tempat sosial. Yuk kita bahas penjelasannya untuk masing-masing tempat sosial sebagai berikut.
Youtube: Jika kawan akrab UKM biasa gunakan saluran Youtube dalam mengiklankan produknya, maka untuk bisa mengukur kuantitas perkembangan audience, kawan akrab UKM bisa mencatat berapa kuantitas viewer (penonton) dari tiap tiap video yang ditayangkan dan berapa subscriber (pengikut) pada periode waktu tertentu. Apakah tersedia menambahkan subscriber setelah kita upload video paling baru kita, atau apakah tersedia menambahkan kuantitas viewer dari video sebelumnya.
Twitter dan Instagram: Melalui dua platform ini, kawan akrab UKM bisa menyaksikan berapa kuantitas follower yang mengikuti account kita. Bandingkan kuantitas follower berikut dari waktu ke waktu tertentu, apakah stagnan, meningkat, atau justru menurun. Baca terhitung artikel lengkapnya mengenai bagaimana cara menaikkan basis follower Instagram, klik disini.
Facebook Fanpage: Di Facebook Fanpage, kawan akrab UKM bisa mencatat kuantitas pengagum pada halaman produknya. Setelah laksanakan campaign, kawan akrab UKM bisa menghitung berapa kuantitas rekan Facebook yang menjadi menjadi pengagum pada halaman product kita.
Mengukur Engagement Rate
Maksud dari engagement rate adalah berapa besar audience yang berinteraksi bersama dengan product kita. Layaknya mengukur perkembangan audience, cara mengukur engagement rate terhitung tidak sama untuk tiap tiap platform nya.
Sama layaknya sebelumnya, untuk mengukur engagement rate pada website, kita bisa gunakan Google Analytics. Sedangkan pada e-commerce/marketplace, kebanyakan masing-masing platform menyediakan alat bantu analisis tersendiri.
Sedangkan pengukuran engagement rate bagi pemanfaatan tempat sosial, mari kita liat penjelasannya berikut ini.
Youtube: Untuk tahu berapa besar audience yang berinteraksi bersama dengan kita, kawan akrab UKM bisa perhatikan kuantitas komentar yang diberikan di video kita, berapa kali video atau konten berikut dishare, dan kuantitas rate (like or dislike – bahagia atau tidak suka) pada video tersebut.
Twitter: Untuk Twitter, kawan akrab UKM terhitung bisa menghitung seberapa besar kuantitas follower yang me-retweet atau me-reply pesan yang kita posting, gunakan hashtag yang kita gunakan, dan mengirim pesan spesial secara langsung atau direct message.
Instagram: Sedangkan untuk Instagram, kawan akrab UKM bisa menyaksikan seberapa besar engagement atau keterlibatan audience bersama dengan tiap tiap tulisan kita bersama dengan menghitung kuantitas like, komentar, share konten yang kita membuat ke instagram story, serta direct message yang dikirim ke account kita. Agar enteng dalam mengumpulkan data, sebaiknya kawan akrab UKM mengganti profil account Instagramnya menjadi profil account bisnis. Dengan menjadi profil account bisnis, kawan akrab UKM akan bisa insight menarik perihal berapa banyak audience yang datang ke account kita, bagaimana profil respondennya, seberapa besar jalinan yang dilakukan, dan lain sebagainya. Baca artikel lengkapnya perihal mengukur efektivitas Instagram lainnya, klik disini.
Facebook Fanpage: Di Facebook Fanpage, kawan akrab UKM bisa menghitung berapa kuantitas klik, komentar, dan kuantitas share perihal tulisan kita.
Mengukur Lead Generation Funnel
Lead generation funnel bisa disimpulkan sebagai kuantitas konversi dari yang tahu product menjadi laksanakan transaksi. Untuk bisa mengevaluasinya, kawan akrab UKM mesti bisa menghitung Return on Investment atau biasa kita sebut bersama dengan ROI. Bagi seorang pelaku bisnis, menghitung ROI mutlak dijalankan sehingga apa yang telah kawan akrab UKM investasikan sebagai modal tidak terbuang secara sia-sia.
Dalam investasi ke siasat digital marketing, type ROI yang secara lazim bisa kawan akrab UKM gunakan sebagai bahan evaluasi adalah profit atau laba, yaitu bersama dengan menghitung berapa keuntungan bersih tiap tiap penjualan atau tiap tiap transaksi, berapa kuantitas rata-rata pembeli yang didapat dari sebuah campaign, dan berapa keseluruhan profit harian, mingguan, lebih-lebih bulanan.
Sebagai contoh, kalau kawan akrab UKM mengeluarkan modal Rp 2.000.000 tiap tiap bulannya untuk program campaign atau iklan, selanjutnya keuntungan per product sebesar Rp 25.000, maka dibutuhkan sekurang-kurangnya 80 kali transaksi untuk balik modal. Sehingga, kalau tiap tiap hari bisa mendapat 3 transaksi saja, maka telah bisa mendapat keuntungan disini.
Sekian pembahasan kita kali ini. Yuk kita rangkum kembali pembahasan mengenai tahapan dan evaluasi siasat funneling di bawah ini.
Bagaimana teman-teman, siasat funneling dalam digital marketing itu menarik, banyak manfaatnya, dan caranya tidak terlampau sukar bukan? Yuk menjadi sekarang kita cobalah pelajari platform apa saja yang biasa digunakan dalam digital marketing, persiapkan siasat funneling yang akan dilakukan, apa target funneling yang diinginkan, dan bagaimana cara mengukurnya nanti. Semoga berfaedah dan selamat mencoba.
Nikita Puspita Ing Endit, Dosen dan Mentor Business Coaching Magister Manajemen Universitas Indonesia
Referensi
Dewaweb.com: 5 Kriteria User Friendly Website.
DHA Digital (2020): Menentukan Return of Investment (ROI) dari Hasil Digital Marketing.
Fathya (2019): 4 Cara Menentukan Marketing Metrics dalam Kesuksesan Pemasaran Melalui Media Sosial.
Nabila (2016): Pemanfaatan Industri Digital di Indonesia Masih Rendah, Tahun 2025 Bisa Sentuh Angka $150 Miliar.
Penulis: Nikita Puspita Ing Endit; Editor: Banu Rinaldi & Dewi Meisari
Komentar
Posting Komentar